Senin, 22 Oktober 2018

Menjalani dan Menghayati



Ainul Yakin*
“Karena sudah terbiasa, seringkali  kita tidak sempat menghayati yang dijalani. Akibatnya tidak sempat pula menikmatinya.”
Karena sudah terbiasa, seringkali  kita tidak sempat menghayati yang dijalani. Akibatnya tidak sempat pula  menikmatinya. Sebuah contoh, sebelum kita memiliki sepeda motor, kita membayangkan bahwa naik sepeda motor itu enak, nyaman dan seterusnya.  Dengan sepeda motor pekerjaan dapat dikerjakan dengan cepat dan lebih mudah. Waktu dan jarak yang biasanya jadi pengambat, saat ini, dengan bantun kendaraan yang namanya sepeda motor sudah tidak masalah. Walhasil, fasilitas yang berupa sepeda motor cukup membantu dalam mempercepat pekerjaan, bahkan bisa lebih mudah melakukan silaturrahim dengan sesame dan seterusnya.
Namun, coba kita amati di jalan raya, bagaimana hiruk pikuk, hilir mudik, sesak dan macetnya perjalanan, seakan-akan mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Mereka seolah-seolah tidak lagi memperhatikan nasib pengendara yang lain. Kebut-kebutan di jalan, kecelakaan lalu-lintas seolah menjadi pemandangan hari-hari kita. Muliai dari kendaraan roda empat, roda dua, truk gandeng, bus dan sebagainya. Mereka sibuk dengan pekerjaannya sendiri-sendiri, yang tampak adalah kesesekan, kesibukan, bahkan anti tolerasi. Rasa egoism tanpak di jalan raya. Jalan raya seolah-olah menjadi media paling produktif menghilangkan nyawa.
 Sebuah ilurtarsi yang lain, barang kali banyak yang membayangkan di antara kita, jika memiliki kendaraan akan membantu sesama, membangun tali silaturrahim dan setersunya. Namun apa kenyataanya. Setelah dia diberi rizki kendaraan bermotor malah semakin malas untuk silaturrahim, semakakin berat untuk membantu sesamanya. Akhirnya kendaraan bermotonya hanya menjadi beban dalam hidupnya. Kendaraan tersebut yang awalnya dibayangkan akan menjadi solusi, malah menjadi sebaliknya. Fasilitas kemudian tidak lagi menjadi jalan keluar tapi menjadi beban tambahan. Mengapa?
Kita kembali kepada persoalan, jika orang yang awalnya tidak memiliki sepeda motor tidak mampu menghayati dan mengendalikan barang miliknya, bagaimana ia akan mampu menikmatinya. Demikian juga dengan apa saja yang ada pada diri kita, mulai dari ujung rambur sampai ujung kaki, apa saja yang menempel dan menjadi miliknya kita seperti kendaraan, rumah, pakaian, dan lain sebagainya mesti dihayati satu demi satu. Karena dengan pengayatan kita akan menjadi sadar bahwa apa yang ada disekeliling kita adalah sebuah anugrah yang sangat berharga.
Kita coba ambil contoh yang lain, makan. Banyak orang yang tidak sempat menikmati makan. Mengapa, karena makan hanya dianggap mengisi enegri agar tubuh lebih kuat untuk bekerja. Yang namanya mengisi energy, sama seerti sepeda motor butuh bensin. Ketika bensinnya sudah penuh ya berhenti diisi, lalu sepeda motornya diajak kerja kembali. Demiki pula orang yang makan hanya untuk mengisi energy tubuh. Saar pertunya sudah penuh, maka berhentilah  makan. Bahkan saat makan tidak sempat berpkir yang kalau dimakan adalah anugrah dari Allah. Sehingga orang yang demikian tidak menikamati makan, tapi memenuhi tugas makan. Makan lagi-lagi menjadi tugas rutin dan beban yang tidak bisa ditinggalkan. Makanya mengapa nabi mengingatkan jika makan diperintahkan duduk, membaca doa, dikunyak sampai empat puluh kali. Itu artinya agar saat kita makan, kita dapat menghayati nikmat yang Allah berikan kepada kita. Agar kiata sadar bahwa yang dimakan kita adalah dari Allah, dan kita menyadari pula bahwa kemampuan untuk makan juga dari Allah bukan dari kita. Sebab, bisa saja Allah dalam seketika mencabut kemampuan makan kita dan melenyapkan barang yang kita makan.
Oleh karenanya, penghayatan menjadi sangat berarti dalam setiap tindak tanduk kita. Pengendara yang menghayati saat mengendara, ia akan merasakan nikmatnya perjalanan, menikmati pemandangan disetiap yang ia lalui. Orang yang mengahyati saat makan, ia akan merasakan nikmatnya makanan yang dikunyah, merasakan bahwa disetiap kunyahan ada keterlibatan Sang Pemberi rizki. Demikian pula sebaliknya, orang yang dalam hidupnya tidak sempat melakukan penghayatan dalam setiap tindakannya, yang ada hanya kesibukan dan kesibukan. Kesibukan yang tiada akhir, bahkan sampai akhir hayatnya.
Tentu dalam mengarungi perjalanan hidup, kita tidak akan luput dari yanga namanya rintangan, hambatan, dan cobaan. Rintangan dan hambatan dalam hidup tentu saja bukan untuk dihindari tapi untuk dilalui. Dilalui agar sampai pada tujuan yang lebih jauh, rintangan dalam perjalanan bukan untuk ditakuti dan dijauhi. Semakin kita mampu melalui dan menjalaninya, maka semakin kuat dan kokohlah kita. Oleh karenanya, mengahati disetiap perjalanan menjadi sesuautu yang penting dalam hidup kita. Karena penghayatan dalam perjalanan hidup akan menghasilkan kenikamatan, penghayatan adalah perpaduan pikiran dan rasa, penyelaman antara yang lahir dan yang batin, yang pada akhirnya menghasilkan petunjuk menuju kepada kebenaran.

*Penghayat kehidupan, sedang di ujung Pulau Jawa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjalani dan Menghayati

Ainul Yakin* “Karena sudah terbiasa, seringkali  kita tidak sempat menghayati yang dijalani. Akibatnya tidak sempat pula menikmatinya....