Ainul Yakin*
“Karena sudah terbiasa, seringkali kita tidak sempat
menghayati yang dijalani. Akibatnya tidak sempat pula menikmatinya.”
Karena sudah terbiasa, seringkali kita tidak
sempat menghayati yang dijalani. Akibatnya tidak sempat pula menikmatinya. Sebuah contoh, sebelum kita
memiliki sepeda motor, kita membayangkan bahwa naik sepeda motor itu enak,
nyaman dan seterusnya. Dengan sepeda
motor pekerjaan dapat dikerjakan dengan cepat dan lebih mudah. Waktu dan jarak
yang biasanya jadi pengambat, saat ini, dengan bantun kendaraan yang namanya
sepeda motor sudah tidak masalah. Walhasil, fasilitas yang berupa sepeda motor
cukup membantu dalam mempercepat pekerjaan, bahkan bisa lebih mudah melakukan
silaturrahim dengan sesame dan seterusnya.
Namun, coba kita amati di jalan raya, bagaimana hiruk
pikuk, hilir mudik, sesak dan macetnya perjalanan, seakan-akan mereka sibuk
dengan pekerjaannya masing-masing. Mereka seolah-seolah tidak lagi
memperhatikan nasib pengendara yang lain. Kebut-kebutan di jalan, kecelakaan
lalu-lintas seolah menjadi pemandangan hari-hari kita. Muliai dari kendaraan
roda empat, roda dua, truk gandeng, bus dan sebagainya. Mereka sibuk dengan
pekerjaannya sendiri-sendiri, yang tampak adalah kesesekan, kesibukan, bahkan
anti tolerasi. Rasa egoism tanpak di jalan raya. Jalan raya seolah-olah menjadi
media paling produktif menghilangkan nyawa.
Sebuah ilurtarsi
yang lain, barang kali banyak yang membayangkan di antara kita, jika memiliki
kendaraan akan membantu sesama, membangun tali silaturrahim dan setersunya. Namun
apa kenyataanya. Setelah dia diberi rizki kendaraan bermotor malah semakin
malas untuk silaturrahim, semakakin berat untuk membantu sesamanya. Akhirnya kendaraan
bermotonya hanya menjadi beban dalam hidupnya. Kendaraan tersebut yang awalnya
dibayangkan akan menjadi solusi, malah menjadi sebaliknya. Fasilitas kemudian tidak
lagi menjadi jalan keluar tapi menjadi beban tambahan. Mengapa?
Kita kembali kepada persoalan, jika orang yang awalnya
tidak memiliki sepeda motor tidak mampu menghayati dan mengendalikan barang
miliknya, bagaimana ia akan mampu menikmatinya. Demikian juga dengan apa saja
yang ada pada diri kita, mulai dari ujung rambur sampai ujung kaki, apa saja
yang menempel dan menjadi miliknya kita seperti kendaraan, rumah, pakaian, dan
lain sebagainya mesti dihayati satu demi satu. Karena dengan pengayatan kita
akan menjadi sadar bahwa apa yang ada disekeliling kita adalah sebuah anugrah
yang sangat berharga.
Kita coba ambil contoh yang lain, makan. Banyak orang
yang tidak sempat menikmati makan. Mengapa, karena makan hanya dianggap mengisi
enegri agar tubuh lebih kuat untuk bekerja. Yang namanya mengisi energy, sama
seerti sepeda motor butuh bensin. Ketika bensinnya sudah penuh ya berhenti
diisi, lalu sepeda motornya diajak kerja kembali. Demiki pula orang yang makan
hanya untuk mengisi energy tubuh. Saar pertunya sudah penuh, maka
berhentilah makan. Bahkan saat makan
tidak sempat berpkir yang kalau dimakan adalah anugrah dari Allah. Sehingga orang
yang demikian tidak menikamati makan, tapi memenuhi tugas makan. Makan lagi-lagi
menjadi tugas rutin dan beban yang tidak bisa ditinggalkan. Makanya mengapa
nabi mengingatkan jika makan diperintahkan duduk, membaca doa, dikunyak sampai
empat puluh kali. Itu artinya agar saat kita makan, kita dapat menghayati nikmat
yang Allah berikan kepada kita. Agar kiata sadar bahwa yang dimakan kita adalah
dari Allah, dan kita menyadari pula bahwa kemampuan untuk makan juga dari Allah
bukan dari kita. Sebab, bisa saja Allah dalam seketika mencabut kemampuan makan
kita dan melenyapkan barang yang kita makan.
Oleh karenanya, penghayatan menjadi sangat berarti
dalam setiap tindak tanduk kita. Pengendara yang menghayati saat mengendara, ia
akan merasakan nikmatnya perjalanan, menikmati pemandangan disetiap yang ia
lalui. Orang yang mengahyati saat makan, ia akan merasakan nikmatnya makanan
yang dikunyah, merasakan bahwa disetiap kunyahan ada keterlibatan Sang Pemberi
rizki. Demikian pula sebaliknya, orang yang dalam hidupnya tidak sempat
melakukan penghayatan dalam setiap tindakannya, yang ada hanya kesibukan dan
kesibukan. Kesibukan yang tiada akhir, bahkan sampai akhir hayatnya.
Tentu dalam mengarungi perjalanan hidup, kita tidak
akan luput dari yanga namanya rintangan, hambatan, dan cobaan. Rintangan dan
hambatan dalam hidup tentu saja bukan untuk dihindari tapi untuk dilalui. Dilalui
agar sampai pada tujuan yang lebih jauh, rintangan dalam perjalanan bukan untuk
ditakuti dan dijauhi. Semakin kita mampu melalui dan menjalaninya, maka semakin
kuat dan kokohlah kita. Oleh karenanya, mengahati disetiap perjalanan menjadi
sesuautu yang penting dalam hidup kita. Karena penghayatan dalam perjalanan
hidup akan menghasilkan kenikamatan, penghayatan adalah perpaduan pikiran dan
rasa, penyelaman antara yang lahir dan yang batin, yang pada akhirnya
menghasilkan petunjuk menuju kepada kebenaran.
*Penghayat kehidupan, sedang di ujung Pulau Jawa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar