Jabatan Sebagai Amanah
Oleh: Ainul Yakin
Pada hakikatnya jabatan itu adalah amanah (titipan) dari Allah SWT.
Titipan artinya adalah beban yang harus dipikul. Orang yang menerima jabatan, dia
harus memiliki kekuatan lebih dari pada yang lain, baik berupa kekutan mental,
spiritual, emosional, social dan intelektual. Sebab titipan tersebut menuntut
untuk dilaksanakan di luar tanggung jawab pribadinya. Setiap amanah mesti
dijalankan sesuai dengan tanggung jawabnya dan perintah dari si pemberi amanah itu sendiri.
Jabatan merupakan salah satu bentuk dari berbagai macam titipan
Allah kepada hambanya yang berupa kekuasaan. Orang yang memiliki jabatan
(pejabat), memiliki kewenangan dan kekuasaan lebih dari orang lain di luar
kewenangan dan tanggung jawab pribadinya. Sebagai sebuah amanah, ia akan
diminta pertanggung jawabannya tidak hanya di dunia tapi sampai di akhirat
kelak di hadapan Allah swt. Jika orang
sudah merasa dan sadar akan tanggung jawab jabatan sebagai sebuah amanah, maka akan
menghindarinya, alih-alih mencarinya. Sebab jabatan itu berat, penuh risiko dan
konsekuensi, Namun demikian, orang tersebut jika diminta maka ia akan
menerimanya dengan penuh tanggung jawab demi menambah kebaikan dan manfaat
terhadap orang lain sebagai bentuk tanggung jawab sosial. Penerimaanya bukan menerima
dengan senang hati, suka cita, apa lagi kesyukuran, tapi justeru ia menerima
dengan duka cita sebab ia memahami jabantannya adalah sebuah ujian dan cobaan
yang harus dipikulnya.
Sebagai sebuah amanah, jabatan tidaklah jauh beda dengan setiap anggota
tubuh yang melekat pada diri kita. Setiap yang melekat pada diri menuntut
adanya pelaksanaan tanggung jawab, pelayanan, penanganan, bimbingan dan
pembinaan secara proporsional dan seimbang sesuai dengan tuntutannya
masing-masing. Jika anggota tubuh tersebut dibiarkan, tidak dilaksanakan
tuntutannya maka akan mengalami instabiltas (sakit). Tidak akan berjalan dengan
seimbang dan stabil bahkan akan mengalami kerusakan dan kesakitan. Bedanya,
kalau anggota tubuh itu melekat, sementara jabatan adalah sesuatu yang ada di
luar tubuh, ia bisa melekat dan bisa juga tidak. Jika ia melekat maka ia menuntut
adanya pelaksaan tanggung jawab. Jika tidak, maka akan menimbulkan keruasakan
dan kekacauan. Makanya jabatan tidak menjadi sebuah keharusan setiap individu
tapi manjadi tanggung jawab social. Dalam istilah fiqh dikenal dengan fardlu
kifayat. Cukup diwakili oleh mereka yang mumpuni. Jika tidak mumpuni
mestinya tidak menerima apa lagi sampai mencari jabatan.
Namun, mengapa sebagian orang malah mencari jabatan, misalnya jadi
Bupati, Gubernur, wali Kota, Dewan Pelwakilan Rakyat (DPR), Direktur, Rektor,
Kepada sekolah dan lain-lain. Bahkan untuk
mendapatkan jabatan tertentu malah berani mengeluarkan modal yang tidak
sedikit?. Jabatan, baik jabatan politik, publik, tokoh agama, tokoh adat dan
lain sebagainya memang sangat menarik mengingat jabatan atau posisi memiliki
efek tersediri terhadap kehidupan pribadi apalagi jabatan publik. Ia memiliki
efek langsung dan bisa dirasakan saraca nyata. Misalnya efek yang didapatkan
adalah popularitas, materi, pengakuan masyarakat dan hubungan social dan
lain-lain. Ia menjanjikan kesenangan dan kemewahan. Beda halnya dengan
pekerjaan ibadah yang tidak memiliki efek langsung seperti ibadah shalat, haji,
belajar, yang secara kasat mata tidak memiliki efek langsung saat ini di sini.
Orang yang secara materi sudah berkecukupan kadang masih banyak
yang berambisi untuk mandapatkan jabatan, bagitu juga orang yang sudah pandai /
alim (intelektual), apa lagi orang yang memang secara materi tidak mamadai.
Setidaknya motivasi orang mencari jabatan dapat diklasifikasi menjadi dua bagian.
Pertama; motivasi material, kedua; motivasi moral. Orang yang cukup secara
materi tapi masih ambisi mencari jabatan, itu bisa dipahami karena motif
popularitas, orang yang sudah popular tapi masih ngotot mencari jabatan bisa
dipahami karena motiv gensi gensi
sosaial.
Mencari jabatan karena popularitas, gensi social, pengaruh dan mendapatkan
kekayaan harta benda itu termasuk pada motivasi materi atau motivasi duniawi.
Sementara mencari atau menerima jabatan karena panggilan jiwa, tuntunan agama,
tanggung jawab keilmuan, perbaikan social, penyelamatan dan perbaikan adalah
masuk pada kategori yang kedua yaitu motivasi moral atau motivasi ukhrawi.
Kedua motiv tersebut memiliki konsekuensi tersendiri dalam
kehidupan baik kehidupan secara pribadi maupun social termasuk didalamnya
bagaimana cara mendabatkan sebuah jabatan. Orang yang motivnya adalah untuk
kepentingan materi (duniawi) maka dia akan menghalalkan segala cara untuk
mendapatkan jabatan tersebut. Tidak akan peduli dengan nilai-nilai, norma yang
berkembang di masyarkat sebab tujuannya hanya satu yakni bagaiman jabatan bisa
dicapai dan direbut. Dia akan
menyenyahkan kepentingan orang banyak, hanyak mementingkan urusan pribdainya.
Orang yang semacam ini bisa saja jadi orang yang sok baik
dan mendadak jadi pahlawan. Namun harus diwaspadai kabaikan orang yang semacam
ini hanya bersifat sesaat dan sementara sebab kebaikan tersebut hanya sebatas
pencitraan dan palsu belaka untuk kepentingan jabatan bukan kebaikan yang
alamiah dengan fondasi yang kuat. Kebaikan yang dibangun sudah bernuansa
politis dan manipulatif. Tindakannya lebih banyak palsunya dari pada yang asli.
Demikian juga konsekwensi terhadap tanggung jawab jabatan yang
sudah dicapai. Orang yang mendapatkan jabatan karena kategori yang pertama ini
tidak akan melaksanakan tanggung jawab dan amanah yang dipikulnya dengan penuh
kesungguhan dan penuh tanggung jawab. Ia justeru akan memanfaatkan jabatanya
untuk menambah kekayaan, popularitas dan pengaruhnya, bukan untuk melakukan
perbaikan. Sebab tujuannya sudah tercapai yaitu materi itu sendiri.
Sementara yang masuk pada
kategori yang kedua yaitu motivasi moral (ukhrawi). Orang yang mencari jabatan
karena motivasi moral (ukhrawi) mesti metode dan cara-cara yang dipakai untuk
mendapatkan jabatan adalah dengan cara-cara yang etis dan bermoral, tidak
melanggar nilai dan norma yang berkembang. Orang yang semacam ini akan
konsisten dengan tujuan baiknya. Sebab ia beranggapan jabatan yang akan
diembannya adalah amanah, beban yang harus dipikulnya adalah untuk kepentingan
masyarakat umum bukan untuk kepentingan pribadi dan akan dimintakan
pertanggungjawabannya baik di dunia atau di akhirat kelak. Tipe orang yang
seperti inilah yang layak mengemabn jabatan.
Secara psikologis, orang
yang mencari jabatan karena motivasi yang duniawi akan merasa sangat kecewa
bahkan depresi jika jabatan yang diinginkan tidak dicapai. Sebaliknya orang
yang mencari atau menerima jabatan karena motivasi ukhrawi akan senang hati dan
legowoh sekalipun tidak mendapatkan jabatan karena pemahamannya tentang
jabatan adalah bagian dari ujian harus dijalankan dengan penuh kesungguhan dan
tanggung jawab.
Orang yang mencari jabatan karena motiv materi itu menandakan bahwa
kapasitas dirinya masih lemah, rapuh dan tidak memiliki integritas. Kalau orang
yang semacam ini menjabat ada posisi tertentu maka akan membawa dampak negatsif
baik buat diri sendirinya dan orang lain. Kepada dirinya akan dihantui
ketakutan-katakutan dan kahawatitan. Kahatiran kahilangan pengaruh,
penghormatan, pularitas, harta benda dan ketakutan kehilangan jabatan itu
sendiri. Konsekuensi lebih jauh akan mengakibatkan terjadinya instabilitas
rumah tangganya dan kekacauan publik.
Makannya tidak heran banyak pejabat yang secara karir politik,
akademik, ekomoni melangit dan sukses namun gagal dalam membina rumah tangganya
(broken home), justeru melahirkan anak-anak yang tidak berbudi, istri
yang melawan dan sebagainya. Jangankan mengurus publik dan menjalankan amanah
jabatannya, membina diri dan kaluarganya saja yang paling dekat ia akan
mengalami kesulitan-kesulitan. Itulah yang dikenal di dunia santri umur dan
waktu yang tidak barokah. Mangapa hal ini terjadi? Sebab orang yang
semacam itu secara dasariah sudah rapuh, tidak memiliki pondasi yang kokoh. Artinya
seandainya dianalogikan dengan sebuah bangunan, ia bagai orang yang hendak
membangun gadung mewah yang tinggi nan menjulang namun dengan podasi lumpur.
Orang yang tidak sanggup mengamban jabatan, hanya bermodalkan
kainginan dan ambisi belaka itu sama artinya dengan orang yang sedang bunuh
diri, membunuh ketenangan jiwanya, membunuh ketentraman keluarganya, membunuh
masa depannya dan menggadainya kebahagian hidupnya. Naudzbillah min dzalik.
Jadi, prasyarat utama dan pertama yang harus dimikili pengemban jabatan adalah integritas
diri. Wallahu a’lam bissawab.
Probolinggo, 13 Januari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar