Jangan Hanya Jadi Kolektor Pengetahuan
Ainul Yakin*
Probolinggo, 26 September 2018
Sejak kecil kita sudah dijejali ilmu pengetahuan, mulai dari pengetahuan budaya, adat, alam sampai ilmu agama. Seperti bahasa local, belajar doa-doa dan mengahafal Quran. Bahkan sampai dewasa tetap mencari ilmu. Mencari ilmu itu baik bahkan kewajiban setiap individu, karena dengan ilmu seseorang menjadi tahu akan kewajiban yang harus dilakukan dan larangan yang harus ditinggalkan. Ilmu membuat pemiliknya berwawasan luas dan cakrawalan hidupnya pun makin tak terbatas. Dengan perkembangan teknologi yang makin canggih pengetahuan dapat diakses dengan mudah sehingga kesempatan menjadi orang pintar / ahli pun makin lebar. Keluhannya saat ini yang berkembang di masyarkat tidak lagi sudah mencari orang berilmu tapi mencai orang yang baik yang mengamalkan ilmunya dengan penuh tanggung jawab.
Orang tua modern, banyak yang berlomba-lomba agar anaknya pintar agama, bisa seramah, hafal al-Quran dan sebagainya. Ia merasa bangga jika anaknya bisa ini bisa itu, hafal ini dan itu, bisa nyanyi dan hafal lagu ini itu dan sebagainya. Pengetahuan yang dimiliki dirinya termasuk anaknya menjadi kebanggaan yang dapat dipamerkan kepada siapa pun. Sehingga kadang lupa bahwa setiap pengetahuan berbanding lurus dengan tanggung jawab mengamalkannya. Padahal mengamalkan lebih penting dari sekedar tahu dan hafal. Itulah yang disebut kolektor ilmu.
Kolektor ilmu pengetahuan? Kolektor ilmu pengetauan adalah mereka yang mencari dan terus mencari ilmu untuk diketahui dan dikuasainya, ia mencari ilmu tanpa henti, mencari ilmu sebanyak-banyak mulai dari yang sederahna sampai yang paling berat. Pencarian terhadap ilmu adalah perbuatan mulia yang tentu saja dianjurkan bagi setiap individu, namun yang perlu disadari bahwa ilmu yang dicari tidak hanya untuk ilmu itu sendiri. Artinya ilmu yang didapat bukan sekedar sebagai pengetahuan belaka. Tapi ujung dari ilmu adalah pengamalan yang dapat berguna untuk sesama dan kesejahteraan umat manusia itu sendiri. Makanya tidak heran jika banyak orang yang berilmu tapi malah membahayakan terhadap dirinya dan orang lain. Misalnya para pejabat koruptor, tehnokrat yang melahirkan teknologi yang berbahaya untuk kemanusiaan seperti bom nuklir, ekonom yang melahirkan system ekonomi yang mencekik masyarakat bawah, dokter yang melahirkan ilmu medis yang membahayakan keberlangsungan manusia dan lains sebagainya. Atau contoh lain, para intelektual yang menjadikan ilmunya sebagai alat pembenaran tindakannya.
Sejatinya ilmu itu mulia, ia bebas dari nilai, tapi mengapa ilmu semakin terbuka dan melimpah ruah, realitasnya tidak berbading lurus dengan kesejahteraan yang terjadi pada manusia, justru yang terjadi kerusakan dan pengrusakan terhadap alam dan nilai-nilai kemanusiaan? Disinilah pentingnya moralitas. Moralitas menghendaki kebaikan, nilai-nilai luhur untuk keberlangsungan dan keharmonisan alam dan manusia. Ilmu tanpa moral ia hanya menjadi alat, alat dapat digunakan sesuai kepentingan pemiliknya. Bisa untuk pembenaran dan pembelaan diri atau sebliknya untuk menayalahkan tidakan orang lain. Ilmu pengetahun yang baru masuk pada dataran kognitif senyatanya tidak dapat menggerakkan dan merubah pemiliknya untuk menjadi baik sebab ia belum merasuk pada jiwa dan mendarah daging sampai menjadi tindakan konkret. Ilmu semacam ini baru menjadi hiasan yang tidak memiliki nilai substantive dalam kehidupan pemiliknya. Jika demikian, maka peresapan ilmu pengetahuan lebih penting dari pada pengehuan itu sendiri. Oleh karenanya tugas dan tanggungjawab peresapan dan penjiwaan ilmu pengetahuan lebih berat dari pada sekedar memberi, menyampaikan dan mengoleksi pengetahuan.
Moralitas menghendaki adanya tanggung jawab, penghargaan tehadap nilai-nilai universa, kebaikan, keadilan dan lahirnya rasa dan kepekaan sosial. Sementara ilmu penegtahuan yang bergerak pada tataran kognitif tidak memahami nilai-nilai tersebut. Makanya tidak heran jika Imam Ghazali dalam kitab ihyanya mengungkapkan ilmu itu dibagi menjadi dua, yaitu ilmu lisan dan ilmu qald. Ilmu lisan adalah ilmu yang hanya menjadi kekayaan pemiliknya, menjadi sebuah wacana, hiasan dan kekayaan intelektual yang tida mampu menggerakan si alim untuk menjadi lebih baik, bahkan ilmu secaman ini justru menjerumsukkan pemiliknya menjadi orang yang lebih jelek dan sesat. Sementara yang kedua adalah ilmu qald, yaitu ilmu yang sudah meresap dan mendarah daging dalam jiwa pemiliknya sehingga jalan hidupnya sesuai dengan ilmu yang dimilimya, bahkan tindakan dan perbuatanya pun menjadi ilmu pengetahun. Itulah ilmu itu yang sesungguhnya, ilmu yang menyatu dengan moral.
Oleh karennya, pendidikan moral tentulah lebih penting dan harus didahuluan dari pada pendidikan ilmu pengetauan. Pendidikan moral menekankan pada lahirnya kesadarasan moral dan tanggung jawab atas semasa. Ia tidak hanya menghendaki lahirnya orang berilmu tapi lebih jauh menghendaki lahirnya orang baik. Sementara orang berilmu yang tak berkesadaran moral hanya akan menjadikan ilmu sebagai ilmu, ilmunya untuk koleksi dan kekayaan intelektual yang diperlakukan sebagai alat untuk memenuhi harsat pribadinya. Semoga kita menjadi pengamal ilmu sejati.
*Dosen Universitas Nurul Jadid (UNUJA) Probolinggo Jawa Timur
Rabu, 26 September 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Menjalani dan Menghayati
Ainul Yakin* “Karena sudah terbiasa, seringkali kita tidak sempat menghayati yang dijalani. Akibatnya tidak sempat pula menikmatinya....
-
Ainul Yakin* “Karena sudah terbiasa, seringkali kita tidak sempat menghayati yang dijalani. Akibatnya tidak sempat pula menikmatinya....
-
Jabatan Sebagai Amanah Oleh: Ainul Yakin Pada hakikatnya jabatan itu adalah amanah (titipan) dari Allah SWT. Titipan artinya adalah ...
-
Probolinggo, 25 Januari 2018 Catatan Hitam Pendidikan Kita Ainul Yakin* Kamis (1/2/2018) kemarin, kita dikejutkan kembali dengan ke...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar